Akhir Cerita Cinta
11 Nov 2010 Leave a Comment
in Short Story Tags: cerita pendek, cerpen, Short Story
Angin seperti beringas menerpa tubuhku yang tengah mengendarai Mega Pro hitam kesayanganku. Hasil keringatku menjadi kroco di tempatku bekerja. Cuaca tampak sedang moody. Sebentar panas sebentar hujan. Seperti hatiku yang bertanya-tanya apa gerangan yang kan ku temui di sana nanti.
Ya, aku datang ke kotamu. Demi mencari jawab akan sebuah tanya. Yang terbersit sejak kau putuskan untuk mengakhiri hubungan kita.
“Maaf, aku tak bisa melanjutkan hubungan ini,” ujarmu malam itu.
Jeeelllleeeegggeeeerrr… Beriringan dengan suara petir, kata-katamu itu. Tak lama hujan turun membasahi bumiku dan juga hatiku yang tengah kering kerontang.
“Kenapa, Ai? Apa yang salah dariku? Selama ini kita baik-baik saja kan?” tanyaku setengah menahan geram.
“Tidak ada yang salah. Aku yang salah. Aku minta maaf,” katamu kemudian memutus percakapan kita malam itu melalui telepon.
Aisha, wanita yang telah menjadi kekasihku satu setengah tahun ini tiba-tiba memutuskan hubunganku. Padahal selama ini kami tak pernah bertengkar. Selama ini aku pikir aku mampu menjaga kualitas Long Distance Relationship kami.
Gadis cantik berjilbab itu merupakan cinta pertamaku. Bahkan kami sudah merencanakan untuk menikah tahun depan. Aku pun sudah secara tidak resmi meminta pada orang tuanya untuk menjadi istriku. Orang tuaku pun sudah merestui. Bahkan Ibuku sudah membelikan kebaya krem untuk acara lamaran kami. Dan aku sudah menyiapkan satu set perhiasan sebagai tanda pengikat cinta kami kea rah yang lebih serius.
Tapi malam itu, dalam sekejap ia menghancurkan semua mimpiku untuk menyuntingnya. Tanpa alas an, tanpa kejelasan. Meninggalkan tanya dalam gundah yang selalu menggayuti hari-hariku setelahnya.
Aku meneleponnya tak pernah dijawab. Kata sahabatnya, dia mengganti nomernya. Facebook, Yahoo! Messenger, dan Twitterku dihapus dari accountnya. Semua foto-foto kami di facebookku juga dihapus semua olehnya.
Aku semakin merasa ada yang aneh. Ini seperti bukan dirinya. Namun tak bisa juga kutemukan satu saja clue untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Satu bulan ku tunggu tak kutemukan juga jawabnya. Membuatku terombang-ambing seperti kapal diterpa gelombang besar. Akhirnya kuputuskan untuk menemuinya di akhir minggu ini.
* * * * *
Udara dingin kota kembang menyambutku kala kumasuki kotamu. Jalanan masih ramai oleh mobil berplat B. Setiap akhir minggu pasti kotamu padat oleh pendatang. Hanya sekedar untuk shopping ataupun rekreasi.
Ku belokkan motorku di gang rumahmu. Dan akhirnya aku sampai dan kutenggerkan Mega Proku di halaman rumahmu. Tapi… kenapa ramai sekali di rumahmu? Tanyaku dalam hati.
“Assalamu alaikum…” ucapku memberi salam.
Sontak saja orang-orang yang ada di rumahmu, yang sebagian besar ku kenal sebagai keluargamu, terkejut melihatku. Terutama orang tuamu.
“Ramadhan… kapan sampai di sini?” kata Ibumu gugup.
“Baru saja, Bu. Saya langsung kemari tadi. Mau ada acara apa, Bu? Ramai betul…” tanyaku berusaha untuk tetap santai.
“Mmm… emang si Eneng nggak kasih tahu?” tanya Ibumu balik. Aku menggeleng.
Tiba-tiba semua mata menatapku iba. Seolah-olah aku adalah orang yang paling patut dikasihani karena ketidaktahuanku ini. Aku merasa menjadi paling bodoh karena tidak tahu apa-apa.
“Hayu atuh, calik heula… Ibu ambilkan minum dulu ya!” kata Ibumu dengan logat Sunda yang kental. Kemudian beliau masuk ke dalam.
“Maaf Nak Ramadhan… kami tidak bermaksud menutupi ini semua dari Nak Ramadhan. Kami hanya ingin menghargai keputusan Eneng. Ini semua Eneng yang minta,” kata Bapakmu mulai angkat bicara.
“Iya Pak… Justru saya kesini mau memperjelas apa yang sudah Aisha putuskan bulan lalu,” kataku.
“Lebih baik Nak Ramadhan bicara dengan Aisha saja. Kami orang tua tidak berhak mencampuri urusan kalian. Aisha ada di teras belakang,” ujar Bapakmu lagi.
Aku pun menuju teras belakang rumahmu. Tempat kita sering menghabiskan waktu saat aku berkunjung ke rumahmu. Di sana banyak gadis-gadis remaja seusiamu mengitarimu. Kamu sedang dipakaikan mehndi, lukisan di tangan menggunakan cairan pacar india. Dan kamu terkejut melihatku. Sementara yang lain meninggalkanmu. Dan kini, hanya ada aku dan kamu.
“Aku akan menikah lusa,” ujarmu tanpa mau melihatku. Aku sudah bisa menebak jawabanmu. Tapi masih saja terasa sakit.
Seolah bumi ini kembali diguncang gempa berkekuatan 9,4 SR. Dan berbagai anak panah menancap di dadaku. Membuat sesak… sesak yang tak sanggup lagi aku tahan. Seketika lututku bergetar. Dan aku terjatuh di hadapanmu.
“Kenapa Ai?? Kenapa rasanya bisa sesakit ini, Ai??” tanyaku gamang.
“Ai minta maaf…”
“Aku pernah buat salah apa sama kamu, Ai?? Kenapa kamu bisa setega ini sama aku, Ai?? Aku datang kesini karena aku pikir aku bisa perbaiki ini semua. Tapi kenapa Ai??? Kenapa yang aku dapat seperti ini???” tanyaku setengah berteriak. Dan kamu mulai menangis.
Sementara orang rumahmu hanya mampu menonton kita dari dalam rumah. Bapakmu melarang mereka untuk masuk mencampuri urusan kita.
“Kamu nggak salah apa-apa, Ram… Aku yang salah. Aku bertemu dia empat bulan yang lalu. Dan dia kemudian langsung melamarku.”
“Tapi aku sudah lebih dahulu memintamu pada orangtuamu, Ai. Apa itu nggak berarti apa-apa buat kamu??”
Aisha terdiam. Hanya isaknya yang terdengar.
“Apa selama ini yang kuberikan kepadamu tak cukup untuk bisa kau hargai???” lanjutku.
Aisha masih terdiam.
“Jawab, Ai!!! Jangan diam saja…!!!” bentakku dengan mata memerah.
“Ai tahu, Ram. Tapi Ai nggak bisa bohongi hati Ai kalau Ai lebih cinta dia daripada kamu,” jawab Ai dengan suara bergetar.
“Kamu mengorbankan cinta kita yang sudah satu setengah tahun demi pria yang baru kenal empat bulan???”
“Ai minta maaf, Ram. Harusnya Ai jujur sama kamu dari awal. Jadi kamu nggak perlu datang kemari.”
“Fine… ini keputusan kamu. Aku akui aku kalah. Aku minta maaf aku nggak bisa pertahanin cinta kita. Aku minta maaf…” kataku mulai menangis.
Hah… kenapa aku begitu lemah di hadapan perempuan ini?? Aku nggak boleh lemah di matanya. Tapi kenapa air mata ini tak mau tertahan lagi.
“Ram… Aku minta maaf…” Aisha kemudian memelukku. Biarlah ini menjadi pelukan terakhirnya.
“Ram… Jangan sedih!! Kamu bisa dapat perempuan yang lebih baik dari Ai. Janji sama Ai kamu akan baik-baik saja!!” ujarnya kemudian menatapku. Mencoba memberiku kekuatan.
“Apa aku akan baik-baik saja tanpa kamu, Ai?” tanyaku pelan.
“Pasti kamu bisa, Ram!” Aisha memegang pipiku dengan kedua tangannya.
“Apa kamu akan lebih bahagia dengannya, Ai?” tanyaku lagi.
“Insya Allah… Doakan aku selalu ya, Ram…” Aisha mulai menghentikan tangisnya dan tersenyum menghiburku.
“Peluk aku lagi, Ai… Karena mulai besok aku nggak akan bisa memelukmu lagi…” pintaku.
Aisha memelukku dan terus memberiku dorongan semangat agar aku tak merasa sakit. Ya, aku memang harus kuat. Aku harus sanggup melewati ini semua. Mungkin Aisha memang bukan jodohku.
“Mau jadi temanku?” tanya aisha sambil mengulurkan tangannya.
“Akan kupikirkan lagi,” kataku kemudian menjabat tangannya. Kemudian Aisha memelukku lagi. Memberikan salam perpisahan padaku.
Malam semakin pekat. Aku pun pamit setelah sedikit berbasa-basi dengan keluarganya. Mereka semua memuji kebesaran hatiku. Memberiku berbagai nasihat agar lebih mengikhlaskan semua ini. Aku seperti tikus yang abis kecebur di selokan kemudian diceramahi karena ketololanku.
Dan kembali ku menembus malam meninggalkan kotamu. Angin dingin memelukku erat seolah menghibur hatiku. Tak jarang pula ia menamparku ketika aku mulai menangis lagi. Ya… Aku harus sanggup… Aku harus bisa melangkah lagi memulai hari yang baru. Meski kini aku rapuh…
Biar aku sentuhmu berikanku rasa itu.
Pelukmu yang dulu pernah buatku
Ku tak bisa paksamu tuk tinggal di sisiku
Walau kau yang selalu sakiti aku dengan perbuatanmu
Namun sudah kau pergilah jangan kau sesali
Karena ku sanggup walau ku tak mau
Berdiri sendiri tanpamu
Aku mau kau tak usah ragu tinggalkan aku
Kalau memang harus begitu
Tak yakin ku kan mampu hapus rasa sakitku
Ku selalu perjuangkan cinta kita namun apa salahku
Hingga ku tak layak dapatkan kesungguhanmu
(Karena Ku Sanggup – Agnes Monica)
* Lady Vhia – 03/11/2010; 01:51PM
Cerpen singkat untuk seorang teman-teman yang pernah merasakan patah hati. Di dalam hidup apa yang kita inginkan/cintai terkadang tidak menjanjikan kebahagiaan bagi kita. Maka itu, senantiasalah menyiapkan diri untuk menghadapi kenyataan yang tidak pernah kita inginkan. Karena ini semua adalah proses pendewasaan diri. Akan ada reward yang indah di baliknya. Janji Allah itu pasti. Just trust it!!! And keep Your Smile!!!

Monolog Dini Hari
13 Nov 2009 Leave a Comment
in Short Story
Satu jam berlalu sejak tengah malam tadi. Namun mataku masih tetap tak bisa terpejam. Entah apa yang berkecamuk dalam diri. Bergejolak seolah tak mau berhenti. Seperti lahar yang tersimpan dalam gunung merapi. Yang siap dimuntahkan kapanpun sesuai kehendak-Nya.
Di luar sana, terdengar suara kodok saling bersahutan selepas hujan yang mengguyur kotaku sepanjang sore tadi. Entah apa yang disenandungkan para kodok itu. Apakah nyanyian untuk menghibur hatiku yang sedang sedih? Ataukah para kodok tengah riang menertawakan kecengenganku malam ini? Ataukah mereka mengajakku berbincang untuk membagi gelisahku?
Ah… entahlah… Rasanya aku tak sanggup lagi menerka-nerka. Bagaimanakah kehidupan akan bermain-main lagi denganku. Yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah pasrah. Mengikuti arus air kemana ia mengalir. Tanpa kata… tanpa suara…
Kriyuk… Kriyuk…
Perutku berbunyi lagi. Rupanya cacing-cacing di perutku mulai pada demo karena belum ku isi sejak makan siang di kantor tadi. Rasa ini masih saja menggangguku. Membuatku tak bisa memejamkan mata, membuatku tak nafsu makan, membuatku merasa rapuh untuk ke sekian kalinya.
“Hei… Rasa sialan…!!! Kenapa kau tak pergi saja dari diriku? Enyahlah kau… Tak usah kau menggangguku lagi… Aku sudah lelah terbebani olehmu…” umpatku dalam hati.
“Sabar, Sa… Dia hanya akan bermain-main sebentar denganmu. Nanti juga dia bosan dan akan pergi. Dan saat dia pergi ada hadiah terindah buatmu,” ujar sisi hatiku yang lain.
“Tapi aku lelah dengan semua rasa ini. Mereka menyebalkan. Mereka cuma bisa merusak alur kehidupanku. Mereka cuma bisa jadi parasit,” kata hatiku tak mau kalah.
“Percayalah, Sa. Tidak akan ada yang lebih indah selain engkau sabar dan ikhlas. Allah pasti punya hadiah terindah di balik ini semua,” suaranya lembut seperti bidadari.
“Tapi aku benci rasa ini. Dan kenapa mereka tidak mau pergi? Padahal aku sudah muak dengan mereka. Aku hanya ingin mereka pergi…” Air mata kekesalanku mulai mengalir.
“Allah tidak akan memberimu rasa itu kalau Dia tahu engkau tidak mampu menanggungnya. Allah tahu kamu mampu bersahabat dengan rasa itu, Sa,” lanjutnya lagi.
“Tapi nyatanya aku tidak mampu menanggungnya. Aku tidak sekuat yang Allah pikirkan,” sahutku masih terisak.
“Apa Allah juga tahu aku sudah terlalu rapuh untuk ini semua? Kemana Allah saat aku mulai lemah?” kataku hampir berteriak.
“Allah masih bersamamu, Sa. Allah sangat yakin kamu mampu menerima rasa itu. Karena kamu nggak selemah ini, Sa. Allah tidak akan tidur, Sa. Allah pasti melihat semua yang sudah kamu lakukan. Sekarang percayalah, ini semua akan berakhir indah,” sisi hatiku yang lain berbicara lagi.
“Lalu kapankah semua ini berakhir? Ingin rasanya cepat-cepat ku akhiri semua ini. Pergi jauh dari rasa itu. Dan mengucapkan selamat tinggal padanya,” kataku.
“Kamu yakin akan melepas rasa itu? Nggak akan ada penyesalan? Win without glory is not a winner. Kalau kamu pergi dari rasa itu, berarti kamu cuma akan jadi pecundang. Yang nggak berani untuk bersahabat dengan rasa yang menurutmu parasit ini,” ujarnya setengah meledek.
“Kalau kamu sudah tenggelam pada suatu rasa, geluti hingga rasa itu bersahabat denganmu. Lebih baik mati setelah berjuang dan mendapat kekalahan yang sejati. Dibanding mati tanpa berjuang sama sekali,” lanjutnya lagi.
“Iya, kamu benar. Tapi sebelum berjuang pun aku sudah kalah. Rasa itu nggak akan berbalas. Hanya akan terpendam dalam egoisme laki-laki. Hanya akan terselubung oleh kemunafikan dia yang tak berani memperjuangkan cintanya,” kataku.
“Siapa bilang dia egois, dia munafik? Dia hanya masih diselimuti kabut hitam yang mengekangnya, Sa. Dia masih membutuhkanmu, Sa. Jauh dalam lubuk hatinya dia masih menyayangimu,” katanya meyakinkanku.
“Iya, dia memang pernah merasa yakin bahwa aku adalah jodohnya. Tapi apakah itu jaminan bahwa dia membalas rasaku?”ujarku meragu.
“Selama masih ada Allah kenapa engkau meragu, Nissaku sayang? Jangan pernah minta dia membalas rasamu. Tapi mintalah pada Allah, Sang Mahapembolak-balik hati manusia. Kalau Allah sudah berkata Kun Fayakun, tak ada yang bisa lari dari kehendak-Nya,” nasehatnya.
“Allah sayang Nissa kan? Allah pasti kabulkan doa Nissa kan?” tanyaku mulai bersemangat.
“Pasti, Sa. Janji Allah itu pasti. Jangan mudah menyerah. Karena Allah benci orang-orang yang pasrah tanpa mau usaha,”
“Nissa nggak akan berhenti menerima rasa ini. Nissa nggak akan berhenti menyiram rasa ini untuknya. Nissa nggak akan menyerah. Seperti keyakinannya, Nissa pun yakin dia adalah laki-laki terakhir yang akan menerima rasa ini,” ujarku bersemangat.
“Hei, Rasa… Maafkan aku… Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menyemaikanmu dalam hatiku. Kita akan bersahabat dengan baik lagi. Jangan pergi dari aku ya Rasa… Karena bersamamu aku akan merasakan hidup yang sebenar-benarnya hidup. Karena Rasa adalah anugerah yang Allah berikan padaku. Maka harus ku rawat dan kusimpan dengan baik. No matter how hopeless…” batinku dalam hati.
Ku lihat sisi hatiku yang lain tersenyum mengganggukan kepalanya. Dialog batin ini memberiku semangat kembali. Melepas semua gelisah yang sedari tadi menggelayutiku. Mendobrak tembok-tembok keangkuhanku. Membuka ruang hatiku yang sempat sekian waktu terkunci oleh amarahnya.
Ya… aku akan menatap hari esok dengan harapan yang sama. Tanpa takut… tanpa ragu sedikitpun… Aku kan tetap mengejar matahari. Walau sinarnya mungkin bisa membakarku. Takkan pernah lelah ku menantinya…
Disini ada satu kisah
Cerita tentang anak manusia
Menantang hidup bersama
Mencoba menggali makna cinta
Tetes air mata mengalir di sela derai tawa
Selamanya kita tak akan berhenti
Mengejar matahari…
Tajamnya pisau takkan sanggup
Goyahkan cinta antara kita
Menembus ruang dan waktu
Menyatu di dalam jiwaku
Tetes air mata mengalir di sela derai tawa
Selamanya kita tak akan berhenti
Mengejar matahari…
(Mengejar Matahari – Ari Lasso)
# Lady Vhia, November 13th, 2009, 01:13am
(Masih tetap berkarya walau karyaku picisan. Walau dini hari telah merenggut malam. Mohon maaf kalau ada kesamaan cerita, tokoh, karakter ataupun latar cerita dalam tulisan saya. Jangan lupa leave comment ya… – LV – )
Ketika Hati Kecewa
10 Nov 2009 Leave a Comment
in Short Story
“Lagi ngapain, Honey?” tanya Edo sambil mengacak-acak rambut Yana.
“Hani, Hani, emangnya nama gue Hani. Nama gue kan Yana,” kata Yana sambil memanyunkan bibirnya.
“Iya deh. De, makan bakso, yuk! Mumpung malam Minggu, nih,” ajak Edo.
“Aduh, Ade lagi males nih, Do. Ade lagi nungguin Andi. Katanya dia mau ke rumah jam delapanan.”
“Andi? Andi siapa?” tanya Edo.
“Andi teman sekelas Edo. Tadi dia bilang mau ke rumah. Katanya sih sekalian mampir ke rumah Edo.”
Kurang ajar! Inceran teman sendiri mau dimakan, batin Edo. Andi itu kan playboy kelas kakap. Gimana kalau Yana dijadiin koleksiannya.
“Ya udah, deh. Edo balik dulu, ya!” kata Edo sedikit kecewa. Edo sudah lama menyukai gadis tujuh belas tahun yang masih kekanak-kanakan yang ada di hadapannya itu. Namun selama ini belum ada respon dari gadis manis di depannya.
“Do, Edo nggak marah kan?” tanya Yana begitu melihat raut wajah Edo yang bermuram durja.
“Nggak. Mungkin lain kali aja deh. Ya udah, Edo balik dulu. Masih banyak kerjaan di rumah.” Kata Edo beralasan.
“Ya udah, deh. Daa, Edo!” seru Yana kekanak-kanakan. Edo pun pulang ke rumah dengan hati yang lara. Ternyata Andi sudah mulai mendekati Yana.
Detik demi detik berlalu. Menit demi menit berlalu. Namun Andi tak kunjung datang. Dengan kesal Yana melarikan diri ke rumah Edo lewat pagar belakang. Rumah Edo dengan Yana bersebelahan dan sama-sama memiliki taman di belakangnya. So, dibuat pagar pendek sebagai perbatasan.
Edo dan Yana lebih suka lewat belakang karena ada seni memanjatnya. Dan Yana melihat Edo tengah memandangi bintang di langit, kerlip engkau disana, memberi cahayanya di setiap insan. Ups, kok jadi nyanyi sih.
Dengan berjingkat-jingkat Yana mendekati Edo. Ia mendorong Edo yang sedang duduk di pagar yang membatasi rumah mereka. Edo yang lagi bete karena Yana menolak diajak makan bakso karena Andi playboy itu, tetap memasang tampang bete sebete-betenya.
“Do, Edo marah, ya?” tanya Yana merasa bersalah.
“Nggak. Andi nggak jadi datang?” tanya Edo sinis.
“Do, Edo kenapa sih? Andi kan teman Edo. Apa salah Ade juga berteman ama teman Edo?” tanya Yana.
“Tapi bukan dengan Andi. Edo tahu maksud Andi ngedekatin Ade. Edo nggak mau Ade nanti kecewa gara-gara dia, De.”
“Percaya ama Ade! Ade bisa ngatasin semuanya.”
“De, Andi itu…”
“Do, tolong jangan jelek-jelekin Andi! Gue percaya ama dia. Ade percaya dia nggak bakal nyakitin gue,” kata Yana tetap pada pendiriannya.
“Ya, Edo emang nggak berhak ngejelek-jelekin Andi. Kalau ada apa-apa Ade jangan ragu buat cerita ke Edo. Edo masih tetap mau denger cerita Ade. Edo mau tidur dulu.”
“Ya… padahal Ade mau ngajak Edo makan bakso,” ganti Yana yang kecewa.
“Tapi Edo lagi nggak mood. Lain kali aja ya, De!” ujar Edo kemudian meninggalkan Yana sendirian. Yana pun kembali ke rumahnya.
%%%%%
Keesokan harinya, Edo sengaja berangkat lebih awal supaya dia punya alasan untuk tidak berangkat bareng dengan Yana. Sampai di sekolah, dia langsung mencari Andi. Emosinya sudah tak dapat dibendungnya lagi. Dan ketika Andi menampakkan dirinya, Edo langsung menariknya ke belakang.
“Ada apa sih, Do?” tanya Andi berulang kali.
“Kenapa elo ngedekatin Yana? Padahal elo tahu gue suka ama Yana lebih dulu daripada elo.”
“Sorry, bukan gue yang suka duluan ama Yana. Tapi Yana duluan yang suka ama gue.”
“Terus elo nerima Yana hanya karena elo kasihan ama dia. Sama seperti yang pernah elo lakukan sama cewek-cewek elo dulu,” kata Edo dengan emosi.
“Ya, gue terpaksa. Sayang kan kalo cewek secakep Yana gue sia-siain seperti yang elo lakukan. Kalo gue sih langsung gue tembak saat itu juga. Tapi sayang tindakan elo lebih lambat daripada gue,” ujar Andi menang.
“Jangan bangga dulu! Kalau sampai elo nyakitin Yana, jangan harap elo bisa ngehirup udara segar lagi,” ancam Edo.
“Jadi elo ngancam gue, temanku yang manis! Aduh, gue takut! Ternyata anak manis seperti elo bisa bikin gue nggak bernafas lagi,” ejek Andi. Edo yang sudah emosi sejak semalam langsung menonjok pipi Andi. Dan perkelahian diantara mereka pun tak dapat dihindari lagi. Alhasil, mereka pun digiring ke ruang BP.
Yana yang mendengar berita itu langsung terkejut. Sepulang sekolah ia pun langsung menemui Andi.
“Elo nggak apa-apa, An?” tanya Yana sambil memeriksa wajah Andi.
“Nggak, nggak apa-apa kok.”
“Kenapa sih elo sampai berantem segala?” omel Yana.
“Edo yang memulai duluan.”
“Edo?” tanya Yana tak percaya.
“Ya, dia cemburu dengan hubungan kita. Edo diam-diam suka ama elo. Dan gue nggak rela Edo merebut elo dari gue. Gue sayang elo, Na,” ujar Andi gombal. Yana terkejut dengan ucapan Andi. Ternyata Edo suka padanya. Pantas saja dia melarang Yana menerima cinta Andi.
Malamnya, Yana menemui Edo yang sedang melamun di tempat favoritnya. Ragu-ragu Yana mendekati Edo.
“Do…!” panggil Yana lirih.
“Apa aja yang udah dikatakan Andi? Edo harap Ade nggak mempercayai kata-katanya!” kata Edo lirih.
“Termasuk perasaan Edo ke Ade?” tanya Yana. Edo terkejut. Apa Andi yang mengatakannya? tanya Edo dalam hati.
“Apa Andi yang ngomong tentang itu?” tanya Edo.
“Tadinya Ade nggak mau mempercayainya, Do. Selama ini hubungan kita hanya sebatas hubungan kakak-adik kan, Do? Kata-kata itu nggak benar kan, Do?” tanya Yana hampir menangis.
“Apa yang dikatakan Andi itu benar, De. Edo memang sayang Ade melebihi perasaan sayang kepada adik. Edo pernah berharap suatu saat nanti Ade menganggap Edo lebih dari seorang kakak,” ungkap Edo.
“Tapi itu nggak mungkin, Do. Ade udah terlanjur sayang sama Andi.”
“De, hentikan impian Ade melangkah bersama Andi. Andi hanya menjadikan Ade sebagai salah satu dari seribu koleksiannya.”
“Cukup! Ade nggak mau denger lagi tuduhan-tuduhan Edo tentang Andi.”
“Tapi itu kenyataan, De. Ya udah, sekarang semua terserah Ade. Tapi Edo minta hati-hati sama yang namanya Andi. Dan Edo masih tetap menunggu Ade sampai Ade mencintai Edo.”
“Terima kasih Edo udah mau nasehatin Ade. Ade balik dulu ya, Do. Ade capek!” kata Yana kemudian meninggalkan Edo sendiri.
% % % % %
Sudah hampir sebulan Edo dan Yana tak seakrab dulu. Paling hanya bersay-hello saja. Itupun kalau ada keluarga Edo atau Yana. Diam-diam Yana kangen dengan perhatian-perhatian Edo, canda tawa Edo, keisengan Edo, dan sebagainya. Begitupun dengan Edo. Namun mereka memendamnya.
Minggu siang di Mal Taman Anggrek, Yana melihat sepasang muda-mudi yang sedang bercanda dengan mesra sekali. Kalau yang dilihatnya itu orang lain mungkin ia tidak akan peduli. Tapi cowok yang sedang bercanda dengan seorang gadis itu adalah Andi. Orang yang selama ini dia bangga-banggakan akan kesetiaannya, ternyata berjalan bergandengan tangan dengan mesranya di depan mata kepalanya sendiri.
Ada sedikit penyesalan karena ia tidak mendengarkan kata-kata Edo. Lebih kecewa lagi karena Andi tak sedikitpun menoleh ke arahnya begitu lewat di hadapannya. Andi malah lebih merekatkan pelukannya dan bahkan ia mencium gadis disebelahnya itu.
Yana sudah tak kuat menyaksikan pemandangan di hadapannya. Ia pun berlari keluar membawa kekecewaannya. Hujan turun dengan deras diluar. Tak peduli sederas apapun hujan itu, ia tetap menerobos hujan dan membuat tubuhnya terhantam mobil di sebuah pertigaan.
Di ruang ICU tergeletak sosok lemah seorang gadis yang kecewa akan cintanya. Didampingi seorang pria yang selama ini sudah menemaninya sekian lama. Edo memandangi gadisnya yang terbaring lemah. Namun dalam keadaan begitu, ia tetap terlihat cantik.
Dalam tidurnya terekam ulang semua peristiwa yang dilihatnya tadi melalui mimpinya. Kemudian terekam pula kehangatan dan kebaikan Edo. Dan terbersit pula rasa penyesalan dihatinya. Dan tanpa disadarinya dia menyebutkan nama Edo. Edo yang sedang memandanginya tersenyum senang melihat Yana sudah sadar kembali.
“De…! Ini Edo. Bangun, sayang…!” kata Edo sambil mengusap-usap rambut Yana. Yang diusap mulai membuka matanya.
“Edo……!!!” panggil Yana lirih.
“Ya, De. Edo disini.”
“Do…Ade minta maaf. Ade nggak mau dengerin nasehat Edo. Ternyata…” kata Yana sangat lirih. Edo meletakkan telunjuknya di bibir Yana.
“Sst, sudahlah! Sekarang yang penting Ade istirahat dulu.”
“Nggak mau. Ade nggak mau istirahat kalau Edo nggak mau denger apa yang Ade rasakan,” ujar Yana manja.
“Ya udah. Sekarang Ade cerita, Edo yang dengerin.”
“Do, tadi siang Ade ngeliat Andi jalan dengan cewek lain. Dia mencium cewek itu didepan Ade. Andi sengaja melakukannya, Do. Ade benci Andi, Do. Ade menyesal nggak dengerin kata-kata Edo. Ade minta maaf,” kata Yana sambil terisak. Edo menghapus air mata Yana yang mengalir di pipi Yana yang pucat.
“Sudahlah, De. Biar nanti Edo yang membalasnya.”
“Jangan, Do! Ade nggak mau Edo berurusan dengan cowok brengsek kayak Andi.”
“Kalau begitu biar Edo yang menghapus luka dan kecewa di hati Ade. Boleh?” tanya Edo menggoda Yana.
“Nggak boleh. Abis Edo belum minta izin ama Mama dan Papa.”
“Mama dan Papa sudah mengizinkannya, kok,” kata Mama di depan pintu. Edo dan Yana terkejut.
“Mama jahat. Suka mendengarkan pembicaraan orang lain,” omel Yana.
“Ya udah, Mama dan Papa menunggu diluar aja, ya!” kata Mamanya Yana kemudian meninggalkan ruangan ini. Dan kini hanya ada Edo dan Yana lagi.
“Gimana? Masih nggak boleh?” tanya Edo. Yana tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum. Mereka pun saling berpandangan dengan mesra. Benih-benih cinta pun tumbuh di hati Yana. Kemudian Edo mengecup kening Yana.
“Do, kamu kan belum minta Surat Izin Mencium. Nanti Ade bilangin ke Mama, loh,” ancam Yana.
“Aduh, jangan dong, yang. Nanti aku bisa di pecat jadi calon menantunya.”
“Biar tahu rasa, loh!” kata Yana menang.
“Nggak apa-apa, deh. Yang penting Edo cinta sama kamu. Kamu cinta sama Edo nggak?” tanya Edo.
“Enggak” jawab Yana. Edo terkejut dan pura-pura menekuk wajahnya.
“Do, tahu nggak? Ade mulai sadar bahwa cinta sejati Ade ada pada Edo. Jadi untuk alasan apa Ade menjawab benar-benar nggak cinta sama Edo. Dengar ya! Ade sayang banget sama Edo. Karena Edo juga sayang sama Ade. Iya kan?” ujar Yana.
“Enggak,” balas Edo. Mereka berdua tersenyum dan bercanda sehingga orang tua mereka yang menunggu di luar terlupakan.
*** S E L E S A I ***
#R-Vhia, 19-6-1999;23:14#
Biar Menjadi Kenangan
10 Nov 2009 Leave a Comment
in Short Story
“Nadia…!” panggil Rama siang itu di sebuah mal. Yang dipanggil menengok dan tersenyum.
“Apa kabar?” tanya Rama kepada Nadia setelah lama mereka tidak berjumpa.
“Hai… ! Baik,” kata Nadia gugup.
“Udah lama ya kita nggak ketemu,” kata Rama.
“Ya…cukup lama. Siapa cewek kamu sekarang?” tanya Nadia.
“Baru ketemu udah nanyain cewek. Kamu sendiri udah dapat cowok yang sempurna?” tanya Rama setengah menyindir.
“Jangan mulai deh, Ram…!” kata Nadia.
“Mulai apaan? Aku kan cuma nanya. Bukannya itu impian kamu? Mendapatkan cowok sempurna. Yang bisa meluangkan setiap detiknya untuk menemani kamu, betul, kan?” kata Rama membuka kenangan lama mereka.
Rama dan Nadia memang pernah saling mencinta. Namun harus berakhir karena keangkuhan dan keegoisan hati Nadia. Nadia tidak mau menerima kekurangan yang ada pada Rama. Dan kini luka itu masih membekas di hati Rama.
“Ram… maafin aku, ya! Aku… aku… aku cuma…”
“Ingin mencari yang lebih baik dariku? Aku bisa ngerti itu Nadia. Aku juga sadar aku nggak bisa menghabiskan waktuku untuk kamu,” kata Rama.
Tak lama kemudian, datang seorang lelaki menghampiri Nadia dan langsung merangkulkan tangannya di bahu Nadia. Nadia agak terlihat gugup.
“Siapa dia, say?” tanya cowok di sebelah Nadia.
“Ram… kenalin! Ini Bobby. Bob, ini Rama,” kata Nadia agak gugup.
“Hai, nice to meet you!” sapa Bobby.
Bah, sok Inggris, rutuk Rama dalam hati sambil tersenyum sinis pada Bobby.
“Rupanya ini lelaki yang diidamkan Nadia. Semoga Anda bisa menghabiskan setiap detik waktu Anda untuk menemani Nadia. Dan bisa menerima Nadia apa adanya. Saya duluan, ya!” kata Rama kemudian meninggalkan dua sejoli itu setelah memandang sinis kepada Nadia terlebih dahulu.
Bagi Rama, Nadia adalah wanita pertama yang membuat hatinya terluka. Yang tambah membuat luka adalah Nadia merupakan cinta pertama Rama. Dan sulit baginya melupakannya.
Y Y Y
Sejak pertemuan siang itu, Nadia sering menelepon Rama. Ia terlihat menyesali keegoisannya dahulu. Sesaat Rama sempat terhanyut akan kenangan lamanya. Ia sendiri masih menyayangi Nadia. Namun telah ada Putri di satu sisi hatinya.
“Ram, kenapa sih kamu murung banget hari ini? Kamu lagi sakit, ya?” tanya Putri sambil menaruh tangannya di atas kening Rama. Rama memandang Putri lama.
Gadis ini terlalu baik untuk kubohongi. Oh, Tuhan, apa yang harus kulakukan? Aku masih mencintai Nadia. Dan rasa itu tak dapat ku tepiskan walau kini tlah Kau hadirkan seorang Putri untukku, kata Rama dalam hati.
“Ram, ada apa?” tanya Putri mengagetkan Rama.
“Nggak, nggak ada apa-apa. Aku cuma agak sedikit letih,” kata Rama.
“Oh ya, kamu mau minum apa?” tanya Putri.
“Terserah kamu,” jawab Rama.
“Gimana kalau es jeruk aja? Kamu kan lagi capek, pasti akan kelihatan lebih segar kalau minum yang dingin-dingin,” tawar Putri.
“Asal nggak ngerepotin, loh,” kata Rama.
“Untuk kamu Putri nggak ngerasa direpotin, kok,” kata Putri kemudian masuk ke dalam.
Tak lama kemudian Putri kembali membawa dua gelas air jeruk dan setoples makanan kecil.
“Silahkan diminum ayahanda Rama!” kata Putri sambil menyodorkan segelas air jeruk kepada Rama.
“Terima kasih, Putri Kecilku!” kata Rama kemudian meminum seteguk air jeruk itu.
“Kamu kok nggak minum?” tanya Rama.
“Ngelihat kamu minum aja, Putri udah senang,” kata Putri sambil tersenyum. Rama menarik Putri ke dalam pelukannya.
“Put… Rama sayang kamu. Rama nggak mau kehilangan kamu,” kata Rama dengan nada sedih sambil membelai rambut panjang Putri. Ternyata Rama baru menyadari ia benar-benar menyayangi Putri dan tak mau kehilangan gadis terbaiknya itu.
“Ram… Putri juga sayang kamu,” kata Putri.
“Put, terima kasih, ya!” kata Rama mengecup kening Putri.
“Untuk apa? Putri kan…”
“Untuk semua yang udah kamu berikan untuk Rama. Kalau orang India bilang, kamu adalah dewi Laksmi dalam hidup Rama. Dan juga seperti dewi Sinta, kekasih Rama,” kata Rama.
“Uh… Gombal…!!”
“Huh, orang serius disangka ngegombal. Ya udah, Rama nggak mau ngomong gituan lagi,” kata Rama ngambek.
“Deu… segitu aja ngambek,” kata Putri sambil menggelitik pinggang Rama.
Y Y Y
Sabtu malam, Nadia menelepon Rama lewat hp-nya. Malam itu Rama sedang menunggu Putri untuk pergi nonton.
“Halo, Rama?” kata suara di seberang diiringi isak tangis seorang gadis.
“Ya, siapa nih?” tanya Rama.
“Ram, ini Nadia. Bisa nggak malam ini kamu kesini? Aku kangen kamu. Aku kangen saat-saat kita masih bersama dulu,” kata Nadia.
“Maaf, Nad. Malam ini aku nggak bisa. Mana si Bobby pacar kamu? Harusnya dia kan yang nemenin kamu malam ini,” tanya Rama.
“Kami udah putus dua minggu yang lalu,” kata Nadia.
“Kenapa? Bobby nggak bisa menemani kamu setiap waktu? Lantas kamu memintaku datang untuk menggantikan posisi Bobby yang mungkin sekarang sedang bernasib sama sepertiku dulu?” tanya Rama lagi.
Putri yang sudah siap berjalan ke teras depan. Namun saat mendengar Rama tengah menelepon, ia mengurungkan niatnya. Dari balik jendela ruang tamunya, Putri menguping pembicaraan Rama.
“Dia yang mutusin aku, Ram. Dia cemburu sama kamu,”
“He he he, orang seperti aku dicemburuinya? Nadia, Nadia, kamu tuh bukan siapa-siapaku lagi,” kata Rama sinis.
“Tapi aku masih mencintaimu, Ram. Aku menyesal atas semua keegoisanku dulu. Aku ingin kembali seperti dulu lagi, Ram,” kata Nadia setengah terisak.
“Apa aku nggak salah dengar? Kamu masih mencintaiku? Nad, Nad, aku sudah melupakan cinta kita sejak kamu mengakhiri semuanya. Bahkan aku hampir menganggapmu mati. Yah, walaupun aku sempat terlena dengan kenangan indah dulu,” kata Rama.
“Hmm…Sudahlah, aku nggak punya waktu banyak,” lanjut Rama.
“Kenapa, Ram? Apa semua ini karena Putri?” tanya Nadia.
“Darimana kamu tahu tentang Putri?” tanya Rama.
“Dari Igo,” jawab Nadia.
“Baguslah kalau kamu tahu. Aku nggak perlu repot-repot lagi menjelaskan ke kamu,” kata Rama.
“Jadi, semua itu benar, Ram?” tanya Nadia tidak percaya.
“Ya, semua itu benar. Aku sudah memiliki seorang Putri yang lebih mencintaiku daripada kamu. Dan satu yang pasti, dia lebih baik dari kamu. Dan cuma Putri satu-satunya gadis yang aku cinta. Jelas kan? Jadi, ya sudahlah, lupain aja semuanya! Anggap aja aku udah mati,” kata Rama. Putri yang sedari tadi mendengar pembicaraan itu mulai menangis. Ternyata Rama benar-benar mencintainya.
“Kamu jahat, Ram…!” maki Nadia. Nadia pun kemudian membanting teleponnya.
Rama pun mematikan handphone-nya. Samar-samar ia mendengar suara isak tangis Putri di ruang tamu. Rama kemudian masuk ke dalam dan menjumpai Putri tengah berlinang air mata. Gadis ini memang berperasaan halus.
“Put… ada apa?” tanya Rama sambil menghampiri Putri. Putri menghapus air matanya dan berusaha tersenyum.
“Nggak, nggak ada apa-apa kok, Ram,” kata Putri berbohong.
“Kamu bohong, Put. Kamu mendengar pembicaraanku, ya?” tanya Rama.
“Maafkan aku, Ram. Aku nggak bermaksud mencuri dengar pembicaraan kamu dengan seseorang yang menelepon kamu tadi,” kata Putri. Rama memeluk Putri.
“Kamu nggak salah, Putri. Aku yang seharusnya minta maaf,” kata Rama.
“Ram, boleh Putri tanya sesuatu?” tanya Putri. Rama mengangguk.
“Siapa Nadia?” tanya Putri pelan seolah-olah khawatir Rama akan memarahinya.
“Nadia? Dia cinta pertamaku dan orang pertama yang menyakiti hatiku. Tapi percayalah, semua itu sudah berakhir,” kata Rama sambil menggenggam tangan Putri.
“Kenapa kamu tidak mau kembali padanya?” tanya Putri.
“Rama rasa kamu sudah banyak mendengar pembicaraanku tadi. Dan kamu pasti tahu jawabannya. Kamulah yang terbaik untuk Rama. Dan Rama sangat menyayangi kamu, Put,” kata Rama.
“Mungkin dia sakit hati, Ram. Kata-kata kamu tadi kejam sekali,” kata Putri.
“Lebih kejam mana dibandingkan kamu mendengar kata-kata manisku untuknya?” tanya Rama menggoda.
“Ya, lebih kejam yang kedua. Coba aja kalau berani,” tantang Putri.
“Aku gak berani, Put. Aku nggak akan pernah mau menyakiti hati kamu, Put. Bodoh rasanya kalau aku melukaimu. Aku janji padamu. Percayalah…”
Putri memeluk Rama erat. Air matanya mulai membasahi kemeja biru yang melekat di tubuh Rama.
“Putri percaya, Ram. Putri juga sayang kamu,” kata Putri pelan.
“Nadia adalah masa laluku. Kamu adalah masa depan Rama. Sempat masa lalu itu membuatku ragu pada masa depanku. Namun ternyata setelah aku pikirkan lagi, aku lebih memilih masa depanku bersamamu, Putri. Karena kamulah anugerah yang paling indah dalam hidupku. Biarkan semua menjadi kenangan yang menjadi bumbu penyedap cinta kita. Aku mencintaimu , Putri.” (Toek: Some-1, biar menjadi kenangan)
# R-Vhia, October 16, 2000 at 7 am #
IT’S HARD TO SAY GOODBYE
06 Nov 2009 Leave a Comment
in Short Story Tags: cerpen, Short Story
“Ndra, kamu kenapa sih? Kamu ada masalah?” tanya Mayang.
“Nggak ada apa-apa kok, Yang,” jawab Andra pelan.
“Kamu bohong… Kamu pasti ada masalah. Kelihatan dari mata kamu kalau ada yang sedang kamu pikirkan. Bener kan?” tanya Mayang penuh selidik.
“Sudahlah…aku baik-baik saja. Aku mau pulang. Sudah malam,” jawab Andra sedikit ketus.
“Baiklah… tapi… semua akan baik-baik saja kan, Ndra?” tanya Mayang cemas.
“Iya, sayang. Maafin aku ya. It will be okay… take it easy…” kata Andra sambil mengusap pipi Mayang. Kemudian Andra beranjak tanpa kata-kata lagi.
Mayang sangat yakin pasti ada masalah yang tengah menimpa Andra yang telah setahun ini kembali menjadi kekasihnya setelah dua tahun Andra berpaling ke perempuan lain. Tapi ia tak tahu harus berbuat apa-apa. Karena ia yakin Andra pasti tidak akan mau diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang ada di benaknya. Ia sangat mengenal betul karakter pria yang dikenalnya sejak duduk di bangku SMP itu.
Ada apa ya dengan Andra? Mengapa ia terlihat murung dan gelisah? Bahkan ia tidak berpamitan dengan Mama atau Papa. Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya, ujar Mayang setengah berbisik. Tuhan… tenangkan hati kekasihku… pinta Mayang dalam hati.
Sejak malam itu, Andra tidak pernah menghubungi Mayang lagi. Mayang pun semakin resah. Berulang kali ia menelepon ke rumah Andra, selalu Andra tidak ada. Ia telepon ke HP Andra, tidak pernah diterima, bahkan lebih sering dimatikan. Ia kirim sms namun tak pernah ada balasan. Dan ini sudah berjalan selama satu minggu. Mayang pun semakin tak menentu.
“Ndra, kamu kenapa sih? Please, balas sms Mayang. kamu masih sayang Mayang kan?” tulis Mayang dalam sms-nya yang entah keberapa kali dikirimnya.
“Yang, aku lagi bingung sekarang. Lagi banyak pikiran udah kayak orang gila. Please, beberapa hari ini aku nggak mau ada gangguan dari manapun! Please…” balas Andra.
“Walau dengan Mayang? Ndra…apapun masalah kamu, Mayang pasti akan Bantu. Kamu cerita dong Ndra! Jangan bikin Mayang khawatir,” balas Mayang.
“Iya. Man got to do what a men got to do,” balas Andra lagi.
“Berarti selama ini kamu nggak pernah menganggap Mayang ada? Lantas untuk apa Mayang menjadi kekasih kamu selama dua tahun ini?” balas Mayang agak kesal.
“Yang… bukan itu maksud Andra. Andra Cuma butuh istirahat aja untuk nenangin pikiran, Andra nggak mau kamu nantinya tersinggung, bete, sedih,” balas Andra.
“Ndra… please… kamu nggak akan bikin Mayang tenang kalau kamu seperti ini. Apapun masalahnya kita cari jalan keluar, berdua. I promise you this…” balas Mayang.
“Andra masih ada urusan sama Tanti yang belum diselesaikan. Would you believe? Beside that I’m confuse about my job tasks. I’m very tired… Forgive me my love…”
Mayang merasa teramat lemas. Ia nggak tahu harus berkata apa lagi. Mengapa Tanti hadir kembali dalam kehidupan Andra? Apa artinya semua ini? Apakah Tanti akan kembali merenggut mimpi-mimpinya bersama Andra? Ataukah Tanti akan kembali mengambil cintanya? Tanya Mayang dalam hati.
Tanti pernah menjalin hubungan dengan Andra sejak tiga tahun yang lalu. Ia telah merebut semua impian dan cinta Mayang. Dan membuat Mayang berkorban untuk hal yang tidak diinginkannya. Mayang harus merelakan hubungan mereka.
Setahun yang lalu, Andra minta Mayang untuk kembali. Mayang masih ragu untuk menerimanya kembali. Dan entah mengapa saat Andra memintanya untuk kembali menjadi kekasihnya setahun yang lalu, ia mau menerimanya. Ah… Mayang memang masih mencintainya. Walau telah beberapa pria hadir dalam kesendiriannya, ia tetap tak dapat merubah perasaannya pada Andra.
Dan kini, Tanti harus hadir kembali dalam kisah cintanya. Akankah ia merebut asa dan impianku lagi? Tanya Mayang dalam hati. Hhh…Andra telah membohongiku. Ia bilang ia sudah tidak ada hubungan lagi dengan Tanti. Tapi sekarang dia bilang masih ada urusan dengan Tanti. Ah… Semua ini membuatku resah, ujar Mayang dalam hati. Perlahan tak terasa air mata mengalir di pipi Mayang yang bersemburat duka.
Oh Tuhan… Mengapa kau hadirkan resah itu kembali? Mengapa aku sangat takut kehilangannya? Mengapa aku merasa Andra akan meninggalkanku? Terlalu banyak pertanyaan untuk satu jawaban, ujar hati Mayang sebelum ia terlelap dalam resah.
* * * * *
“Andra kemana, Yang? Kok nggak pernah kelihatan lagi?” tanya Mama Mayang sore itu.
“Lagi banyak tugas kali, Ma,” jawab Mayang berbohong.
“Oh… kirain lagi marahan. Kalian baik-baik aja, kan?” tanya Mama Mayang lagi.
“Nggak kok, Ma. Mayang baik-baik aja. Udah ah, Mayang mau mandi,” kata Mayang kemudian beranjak ke kamarnya untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan Mamanya yang pasti akan berlanjut kalau terus ditanggapi.
Sesampainya di kamar, Mayang merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Sepertinya ada lelah yang menjalar di tubuhnya. Tuhan… kuatkan hati Mayang dalam menghadapi masalah ini. Beri Mayang selalu ketenangan supaya dapat berpikir dengan jernih, pinta Mayang dalam hati.
Malamnya, Mayang sms Andra lagi.
“Ndra, kamu masih sayang Mayang? Entah kenapa akhir-akhir ini Mayang sering merasa kalau Mayang akan kehilangan kamu. Would love becomes a broken heart? And would my dreams begin to die?” tulis
Mayang dalam smsnya.
“Hhh… Andai kamu ngerti perasaaan Mayang. If you have a change your heart, I’ll be understanding. Mayang terima apapun keinginan kamu. Mayang ingin yang terbaik untuk kamu. Please, reply my sms!!!” lanjut Mayang.
“Apapun yang kau dengar dan katakan tentang cinta, itu semua hanyalah kulit. Sebab inti dari cinta adalah rahasia yang tak terungkapkan. I am indeeply sorry… Just forget me… I can’t…!” balas Andra.
“Maksud kamu apa, Ndra? Apa ini artinya… kita akan berpisah?” balas Mayang.
“Cinta adalah lautan. Kita adalah ikan. Dan wujud adalah jaringnya. Bagaimana mungkin dia yang berada di dalam jaring dapat menikmati lautan? Dia bernama Fitri, relakan kami dalam doamu!” balas Andra.
“Kenapa, Ndra? Kenapa harus Mayang yang selalu berkorban untuk kamu? Kenapa harus Mayang yang merelakan apa yang Mayang tidak inginkan?” balas Mayang hampir menangis.
“Jadilah kau seperti LILIN…” balas Andra singkat.
Astaghfirullah… apa yang aku takutkan benar-benar terjadi. Mengapa semua ini terjadi setelah kupulihkan hati dan percayaku padanya? Semua yang dia katakan hanya untuk membuaiku dalam mimpi.
Ah… mengapa aku harus tertipu untuk yang kesekian kalinya, bisik Mayang dalam hati.
Mayang tak kuasa lagi menahan air matanya. Usahanya membendung air matanya tak berhasil. Ia terlalu rapuh dalam hal ini. Andra adalah cinta pertamanya. Bukan sekali ini Andra menduakannya.
Namun entah mengapa ia tak sanggup menghapus cintanya untuk Andra. Dan kini ada yang lain di hati Andra, dan orang itu bukan Tanti. Cinta memang tak dapat diduga.
* * * * *
“Ndra, Mayang mau ketemu kamu, please… sebentar saja. Boleh ya?” pinta Mayang lewat smsnya.
“Ya udah. Di tempat biasa jam empat sore nanti,” balas Andra.
Sesampainya di sana, Andra telah menanti di tempat mereka biasa menikmati hari-hari penuh cinta yang lalu.
“Hai… sudah lama?” tanya Mayang sedikit gugup.
“Lumayan. Duduk, Yang!” kata Andra. Mayang hanya tersenyum getir.
“Kamu mau pesan apa?” tanya Andra.
“Nggak. Mayang cuma sebentar kok.” Sejenak kami terdiam bersama.
“Aku…” ujar kami bersamaan.
“Kamu duluan deh,” kata Andra.
“Mayang tahu Mayang udah nggak pantas menemui kamu lagi. Mayang cuma ingin kamu tahu perasaan Mayang. Mayang nggak akan menahan kamu. Mayang sadar kok siapa Mayang. But believe me, It’s hard to say goodbye…” kata Mayang setengah berkaca-kaca. Mayang menghela nafas sebentar.
“Mayang tahu Mayang telah kehilangan segalanya. Mayang telah kehilangan asa, impian Mayang dan juga kamu. Mayang mencoba menghindarinya. Tapi kenyataan itu ada di depan mata Mayang, bahkan saat Mayang terpejam sekali pun. Seandainya kamu mengerti, Ndra…” Mayang mulai terisak. Air matanya perlahan mulai meluruh.
“Yang…”
“Jangan katakan apa-apa lagi, Ndra! Percuma… itu hanya akan menyakiti hati Mayang. Mayang sadar bahwa Mayang bukan yang terbaik untuk kamu. Maafin Mayang, Ndra… Mayang banyak salah sama kamu,” kata Mayang.
“Yang… kamu nggak salah. Andra yang salah. Andra yang seharusnya minta maaf.”
“Cinta tidak pernah mengenal kata maaf, Ndra. Biar bagaimana pun Mayang berterima kasih kamu udah kasih kesempatan Mayang untuk mengenal kamu. Terima kasih untuk semua cinta yang pernah kamu berikan walau itu cuma semu semata. Terima kasih atas segalanya…!!! Dan jangan khawatir. Mayang nggak apa-apa kok. Bukan sekali ini kan kamu memperlakukan Mayang seperti ini?” kata Mayang sambil menyusutkan air matanya. Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah bingkisan dan diserahkannya kepada Andra.
“Oh ya… ini untuk kamu. Semoga kamu mengerti… Oh ya, pesan Mayang untuk kamu, ingat ya!!! Jangan pernah buat Fitri menangis seperti kamu buat Mayang menangis! Selamat Tinggal…!!!” Mayang segera beranjak pergi meninggalkan Andra sendiri.
Andra membuka bingkisan di hadapannya. Sebuah buku kumpulan puisi yang berjudul “Ijinkan Aku Mencintaimu” karya Abdul Wachid B.S. dan sebuah kartu yang bertuliskan “mengapa cinta yang datang dengan cepat, cepat pula pergi? Saat janji hati telah tertanam untukmu. Kau pergi dengan bisu. Memang tak pantas ku ada di sisimu. Maka ijinkan aku tuk ucapkan… AU REVOIR…”
(toek: My Eagle, it’s hard to say goodbye!I’ll miss U always.)
~ The End ~
Mohon maaf apabila ada kesamaan nama, karakter ataupun kisah…
# Lady Vhia, 22/02/2003, 01:17 WIB#

New Comments