Coretan Gelisah Hati
23 Nov 2010 Leave a Comment
in Curhat
M
asih seperti malam-malam kemarin, gelisah ini tetap tak mau pergi. Menyeruak ke dalam lubuk hati yang terdalam. Meninggalkan sejuta tanya tanpa jawab. Seiring dengan bergulirnya waktu. Menyatu ke dalam aliran darah tubuh ini.
Seketika di hadapanku hanya ada gelap. Tanpa batas… Tanpa udara… Terasa begitu menyesakkan. Tapi aku tahu… Aku harus bisa melewati itu semua. Mencari sebuah titik cahaya untuk menerangi jalan. Meski saat ini harus meraba di kegelapan.
Dahulu engkau datang membawa cahaya. Bersama secercah harap akan suatu mimpi. Membuaiku dalam angan yang tak berkesudahan. Menyemai harap melambung tinggi. Kamu datang… dengan sederhana… Seperti satu bintang di langit kelam.
Kita pun saling mengisi… Membagi kekosongan hati dengan nyanyian-nyanyian persahabatan. Kemudian menjadi puisi-puisi asmara. Yang digubah dalam pekatnya malam. Berbagi dan hanya kita yang tahu… Menjadikannya sebuah kebersamaan yang tak kan pernah bisa kulupakan.
Dahulu ada jemarimu yang mengusap air mataku kala sedih senantiasa menghampiriku. Dahulu ada tanganmu yang kokoh merangkulku kala aku mulai rapuh. Memberiku satu kekuatan baru untuk tetap bertahan. Dahulu ada bahumu tempat untukku menyandarkan letihku… Letih pada kemunafikan duniawi… Lelah terhadap pencarian jati diriku…
Dahulu masih ada senyummu yang selalu menyambutku saat kita bertemu di akhir hari. Dahulu ada tawamu yang lucu yang senantiasa menghiburku di setiap hari-hariku. Dahulu tak pernah kau lelah berceloteh tentang makna kehidupan. Membawaku pada satu pendewasaan diri.
Dan kali ini kembali aku rapuh… Laksana gelas yang retak menanti hancur berkeping-keping. Terjatuh dari ketinggian angan yang sempat kurajut tinggi. Menyudutkan aku pada pengharapan yang hampa. dan semua itu kulalui sendiri… Tak ada lagi kamu yang dulu…
Aku memang kerdil… Dan akan tetap selalu kecil di matamu. Seberapa besar penghargaan yang kuberikan padamu, aku tetaplah tak berarti apa-apa untukmu. Seberapa besar kasih dan sayang tulus yang ku berikan, tetaplah tak mampu meraih hatimu yang angkuh.
Kamu memang Tuan Hitamku… Yang terlalu hebat sehingga aku tak layak untuk menjadi kekasihmu. Yang terlalu sempurna sehingga aku tak boleh meminta hatimu. Yang terlalu kaya untuk orang yang tak berharta sepertiku. Karena aku hanyalah makhluk kecil tak bernilai di matamu.
Tapi salahkah aku masih berharap? Tetap memintamu menjadi yang terbaik dalam hidupku… Salahkah aku Ya Rahiiim…??? Sampai engkau membalikkan keadaan menjadi tak seperti dulu lagi. Apakah kami terlalu jauh melangkah pada sesuatu yang tak kau bolehkan?? Apakah cinta ini adalah suatu kesalahan sehingga kau selalu memberi keraguan di hatinya??
Hanya mampu aku bertanya tanpa ada jawabnya. Membuat bintangku kembali meredup. Tertutup awan hitam di gelap malam. Tersimpan dalam sudut hati yang gelisah menantimu…
Lady Vhia
24/11/2010 – 01:07am
“Allah pasti kabulin apa yang aku minta kan Mas? Seperti yang selalu kamu bilang dulu. Allah itu adil. Iya kan Mas???” kembali aku bertanya… entah pada siapa…

New Comments