Catatan Singkat di Malam Idul Adha…

12 : 26 am Waktu Laptop Si Mas Item

Hari ini sudah memasuki hari Raya Idul Adha. Sudah lewat tengah malam. Dan adzan pun tetap berkumandang tanpa henti. Mengisi kosongnya hati dari hampa. Merenungi waktu demi waktu dalam harap yang tak berkesudahan. Menepi kembali setelah lelah ku berjalan.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Walillahil hamd…

Tanpa terasa kesedihan menyelimuti ruang benakku. Meski aku sudah tak mampu lagi berurai air mata. Sudah dua hari raya ini aku merayakannya sendiri. Tanpa keluarga, tanpa teman, hanya berteman sepi dan sendiri.

Untungnya lebaran Idul Fitri lalu ada dia yang menemaniku. Kami menyambutnya dengan suka cita. Masak opor ayam, ketupat, sambal goreng hati. Menu yang sederhana dibanding sajian dirumahku pada setiap lebaran-lebaran sebelumnya.

Dan hari itu untuk pertama kalinya aku berlebaran bersamanya. Tangannya adalah tangan pertama yang kukecup memohon maafnya. Membuatku selalu meminta pada Allah untuk tidak mengambil kebersamaan yang indah ini. Meski kadang sakit.

Dan hari itu untuk pertama kalinya semasa hidupku aku tidak lebaran bersama Mom-ku. Dan aku hanya mampu mengucap maaf pada Beliau melalui barisan kata dalam sms. Tanpa balasan, tanpa reaksi. Ah… Mom, Andai Allah senantiasa memberimu sedikit hidayah…

Rencanaku pun untuk berlebaran di rumah Papa untuk kedua kalinya terbatalkan. Hanya karena aku belum bisa membeli tiket untuk pulang pergi Bekasi-Kendal. Hidupku kini sudah selalu menggunakan skala prioritas. Setidaknya masih tetap bersilaturahim meski hanya melalui sms.

Sungguh berbeda lebaranku tahun ini dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Tetap saja aku merasa sendiri. Dia hanya ada di saat pagi untuk kami shalat Ied bersama. Setelah itu dia pergi dengan seseorang dan menghabiskan waktu bersama orang itu dan keluarganya. Sementara aku di rumah hanya bisa sendiri menantinya.

Hhhh… Apakah hidupku akan senantiasa bersendirian Allah?? Mengapa awal yang mudah sekarang terlihat sulit? Walau aku mulai menikmati kedamaian setelah bendera putih dikibarkan. Aku kembali menemukan dia yang dulu. Meski belum sesempurna dulu.

Entah bagaimana aku bisa bertahan hidup tanpa dia… Sementara suatu hari kemungkinan untuk tidak bersamanya adalah sangat mungkin. Bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku setelah itu?? Ahhh… entahlah… aku tak ingin membayangkan sesuatu yang negatif. Hanya akan membuatku pesimis akan hidup…

Aku hanya bisa berharap Allah tidak pernah mengambil saat-saat indah kebersamaanku dengannya. Dan mengijinkannya untuk bisa menjadi imamku. Yang akan menghalalkanku tanpa syarat… Karena aku hanya ingin bersama-samanya… Meski tanpa harap sekalipun…

 

Lady Vhia

17/11/2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.