Coretan Gelisah Hati

Masih seperti malam-malam kemarin, gelisah ini tetap tak mau pergi. Menyeruak ke dalam lubuk hati yang terdalam. Meninggalkan sejuta tanya tanpa jawab. Seiring dengan bergulirnya waktu. Menyatu ke dalam aliran darah tubuh ini.

Seketika di hadapanku hanya ada gelap. Tanpa batas… Tanpa udara… Terasa begitu menyesakkan. Tapi aku tahu… Aku harus bisa melewati itu semua. Mencari sebuah titik cahaya untuk menerangi jalan. Meski saat ini harus meraba di kegelapan.

Dahulu engkau datang membawa cahaya. Bersama secercah harap akan suatu mimpi. Membuaiku dalam angan yang tak berkesudahan. Menyemai harap melambung tinggi. Kamu datang… dengan sederhana… Seperti satu bintang di langit kelam.

Kita pun saling mengisi… Membagi kekosongan hati dengan nyanyian-nyanyian persahabatan. Kemudian menjadi puisi-puisi asmara. Yang digubah dalam pekatnya malam. Berbagi dan hanya kita yang tahu… Menjadikannya sebuah kebersamaan yang tak kan pernah bisa kulupakan.

Dahulu ada jemarimu yang mengusap air mataku kala sedih senantiasa menghampiriku. Dahulu ada tanganmu yang kokoh merangkulku kala aku mulai rapuh. Memberiku satu kekuatan baru untuk tetap bertahan. Dahulu ada bahumu tempat untukku menyandarkan letihku… Letih pada kemunafikan duniawi… Lelah terhadap pencarian jati diriku…

Dahulu masih ada senyummu yang selalu menyambutku saat kita bertemu di akhir hari. Dahulu ada tawamu yang lucu yang senantiasa menghiburku di setiap hari-hariku. Dahulu tak pernah kau lelah berceloteh tentang makna kehidupan. Membawaku pada satu pendewasaan diri.

Dan kali ini kembali aku rapuh… Laksana gelas yang retak menanti hancur berkeping-keping. Terjatuh dari ketinggian angan yang sempat kurajut tinggi. Menyudutkan aku pada pengharapan yang hampa. dan semua itu kulalui sendiri… Tak ada lagi kamu yang dulu…

Aku memang kerdil… Dan akan tetap selalu kecil di matamu. Seberapa besar penghargaan yang kuberikan padamu, aku tetaplah tak berarti apa-apa untukmu. Seberapa besar kasih dan sayang tulus yang ku berikan, tetaplah tak mampu meraih hatimu yang angkuh.

Kamu memang Tuan Hitamku… Yang terlalu hebat sehingga aku tak layak untuk menjadi kekasihmu. Yang terlalu sempurna sehingga aku tak boleh meminta hatimu. Yang terlalu kaya untuk orang yang tak berharta sepertiku. Karena aku hanyalah makhluk kecil tak bernilai di matamu.

Tapi salahkah aku masih berharap? Tetap memintamu menjadi yang terbaik dalam hidupku… Salahkah aku Ya Rahiiim…??? Sampai engkau membalikkan keadaan menjadi tak seperti dulu lagi. Apakah kami terlalu jauh melangkah pada sesuatu yang tak kau bolehkan?? Apakah cinta ini adalah suatu kesalahan sehingga kau selalu memberi keraguan di hatinya??

Hanya mampu aku bertanya tanpa ada jawabnya. Membuat bintangku kembali meredup. Tertutup awan hitam di gelap malam. Tersimpan dalam sudut hati yang gelisah menantimu…

 

Lady Vhia

24/11/2010 – 01:07am

“Allah pasti kabulin apa yang aku minta kan Mas? Seperti yang selalu kamu bilang dulu. Allah itu adil. Iya kan Mas???” kembali aku bertanya… entah pada siapa…

Happy 31st Birthday, Mas Itemku!!!

12:00 AM – 22/11/2010

Trererererererereretttt….

Alarmku berbunyi menandakan hari ini memasuki hari kelahiranmu. Met Milad, masku yang baik…!!! Alhamdulillah tahun ini aku masih dikasi kesempatan untuk sama-sama dengan kamu di hari ulang tahun kamu. Semoga kebersamaan ini tak pernah berakhir sampai maut yang memisahkan kita.

Di awal dini hari ini, kupanjatkan doa untukmu di hari miladmu. Semoga kamu senantiasa dalam lindungan Allah SWT. Semoga kamu senantiasa pula diberikan kesehatan agar mampu menjalani hari-harimu yang amat terasa berat ini. Dan semoga Allah segera memberi jalan keluar atas segala permasalahan-permasalahan hidup kamu. Agar kamu bisa lebih ringan dan pasti dalam melangkah.

Hari ini aku membuatkanmu Cake special. Tapi nggak tau rasanya gimana. Soalnya hari ini aku mendadak nggak konsen buatnya. Kepikiran takut-takut kamu akan marah seperti tahun lalu karena aku bermaksud untuk merayakan ulang tahun kamu. Semoga kamu suka…

Satu hal yang perlu kamu tahu, aku merayakan ultahmu bukan karena aku mencari perhatianmu. Aku melakukan ini semua ya karena beginilah caraku menyayangi seseorang. Bukan cuma kamu, Orang-orang yang sangat dekat di hati aku semua kuperlakukan sama seperti apa yang kulakukan ke kamu di setiap ultah mereka.

Aku hanya ingin memberikanmu satu kejutan-kejutan sederhana, dengan cara yang teramat sederhana. Sehingga kamu bisa merasakan kebersamaan yang ku berikan. Aku tidak pernah memintamu melakukan hal yang sama di hari miladku. Cukup kamu ingat, aku sangat mengucapkan terima kasih. Aku hanya tidak bisa memberikanmu kado yang mewah seperti yang ia selalu berikan ke kamu. Aku tak memiliki sejumlah rupiah untuk itu semua. Aku hanya bisa memberikanmu suguhan sederhana ini. Bukan untuk meminta balasan. Tapi inilah salah satu caraku mencintaimu.

Andai kamu selalu mengerti dan coba untuk pelajari makna dari apa-apa saja yang telah aku lakukan ke kamu. Bukan hanya bisanya salah paham sehingga meningkatkan emosi yang berkepanjangan. Semua ini kulakukan karena aku sayang kamu. Meski cintaku salah…

Kamu terlalu baik , Mas… Bahkan aku sangat memujamu… Karena kamu baik… Kamu satu-satunya orang yang saat ini masih peduli padaku. Walau aku tak pernah tahu nilai keikhlasan di hatimu. Kamulah satu-satunya keluarga, sahabatku disini. Setidaknya pada saat ini. Meski kamu marah, tapi aku tak pernah bisa melihat marahmu. Dibalik itu semua aku tahu, jauh di lubuk hatimu yang paling dalam, kamu nggak mau bersikap seperti ini padaku.

Kalau aku sering meneleponmu saat kamu nggak ada di dekat aku, itu bukan karena aku ingin mengganggumu. Tapi memang aku sedang butuh teman. Aku cuma pengen ngobrol. Melerai kesepian yang merajai hati. Kalau aku selalu memintamu untuk makan di rumah. Itu hanya karena aku ingin dekat dengan kamu. Meski kita hanya diam walau berada di satu ruangan. Setiap hari hanya pada moment makan malamlah kita bisa bertemu. Selebihnya waktu kamu banyak kamu habiskan diluar. Hari kerja pagi sampai malam kamu di kantor. Weekend kamu pergi sama dia. Hanya saat-saat itulah, meski cuma 30menit. Itu cukup untuk membuatku merasa senang berbagi dengan kamu.

Kalau aku sering kamu nilai bawel. Itu karena aku merasa apa yang aku pikirkan benar. Tapi kalau itu tidak sejalan denganmu, kamu akan marah bukan mendiskusikannya. Alhasil, kita hanya bisa berdiam seperti dua orang yang tak saling kenal. Kalau aku salah aku juga pasti akan terima kamu katakan aku salah.

Entahlah, aku tak pernah benar-benar mengerti hatimu. Meski kamu selalu meminta untukku melihatmu tidak dengan emosi. Tapi aku terkadang masih tak mengerti hatimu yang sesungguhnya. Hanya bisa tawakal atas kebesaran cinta Allah yang sempat tertitipkan di hati kita berdua.

Met milad, Mas…!!! Semoga kita akan senantiasa tetap bersama-sama. Semoga Allah menjadikanmu yang terbaik bagiku. Menjadi imam dalam setiap shalat-shalatku dan juga kehidupanku nanti. Menjadi seorang kakak yang senantiasa melindungiku. (Aku rindu kamu peluk aku untuk memberiku kekuatan disaat aku merapuh dulu). Menjadi seorang ayah yang senantiasa memberi petuah-petuah bijaksana. Menjadikanku lebih bisa memaknai hidup.

Semoga rejeki, kedudukan, posisi, dan tanggung jawab yang kamu emban, tidak membuatmu lupa diri, angkuh dan sombong dalam berperilaku pada orang lain. Tetap jadi masku yang selalu penuh semangat!!! Dengan gigi gingsul yang tersembul di setiap senyumanmu. Dengan tangan kokoh yang mengepal ke udara.

Akhirul kata, aku hanya ingin kamu tahu… Aku sayang kamu… Sama seperti saat pertama kali aku bertemu. Sama seperti saat pertama kali kamu menyentuh hatiku. Meski kini kamu tengah meninggalkanku dalam keadaan yang menggantung tak jelas arah. Namun, selama aku masih disini, aku tak akan pernah emnghapus sedikit saja cinta di hatiku. Hanya Allah yang berhak menghapus dan mengambil titipan cinta-Nya untukmu melalui aku…
Besok pagi kita tiup lilin yaaa!!! Love U, Birthday Man…!!! Keep smiling!!! It is Ur day…

 

 

 

Lady Vhia

22/11/2010, 12;30 AM


Aku dan Pinguin Pinkku…

Seorang sahabat bertanya padaku, “Kemana bebeknya mas item??”. Aku pun mendadak bingung dengan pertanyaannya. Bebek Mas Item?? Sejak kapan masku itu miara bebek? Ada juga 3 ekor lele dan si tempus yang selalu ngintil kalau ada orang di rumahnya.

Ternyata yang dimaksud adalah boneka pinguin pink hadiah dari salah satu bank atas aplikasi kredit yang diajukannya 1 tahun lebih yang lalu. Dan satu yang paling membuatku bahagia, dia masih ingat bahwa boneka pink itu juga menjadi saksi kebersamaan kami yang indah dulu.

Ya… pinguin pink itu dia berikan waktu aku sedang merasa sedih. Tiba-tiba dia datang membawa boneka itu dan mencoba untuk menghiburku. Dan dia memang jagonya ngebanyol. Akhirnya boneka pinguin pink itu selalu menemaniku kalau aku lagi sedih. Dengan dia juga pastinya.

Sekarang boneka pink itu hanya tergeletak di sebelah bantalku. Hanya berdiri mematung tak mampu menghibur setiap laraku. Hanya mampu berdiam diri setiap aku menangis. Karena sang pemiliknya tidak pernah menghidupkannya kembali.

Ya… bulan-bulan lalu adalah masa terberat dalam hidupku. Terlebih semenjak aku memutuskan untuk resign dari kantor lamaku. Dia menjadi semakin emosian, selalu marah-marah, menganggapku selalu salah. Namun, sungguh hanya doa dan cinta yang tulus yang mampu merubahnya. Dan tak lupa pula semua ini karena campur tangan Allah Yang Mahamembolak-balikkan hati manusia.

Dia kembali lagi seperti dulu. Meski cintanya masih terselimuti egois dan gengsi. Mencoba untuk mengingkari bahwa kami pernah saling cinta. Setidaknya aku masih bisa melihat tawanya yang dulu. Yang selama ini aku rindukan. Gigi gingsulnya yang tersembul setiap kali dia tertawa. Dan juga matanya yang menyipit sehingga kerutan-kerutan di pinggir matanya timbul. Ah… aku begitu merindukan tawa itu. Tawa yang dulu selalu hadir di setiap hari-hariku.

Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang, akankah kebersamaan ini akan berakhir tidak sempurna? Apakah semua mimpi-mimpi yang kugantungkan tinggi di langit malam hanya akan tetap menjadi kelam? Aku tak pernah sanggup membayangkan hidupku tanpa dirinya. Apalagi di tengah kesendirianku saat ini.

Kadang resah dan gelisah selalu menghantuiku setiap malam. Membuatku terjaga sampai larut malam. Memberikan energi negatif pada pikiranku. Melemahkan semua mimpi dan harapku. Namun aku percaya, Allah itu Mahaadil. Seperti yang selalu dikatakannya dulu. Akan ada balasan bagi orang-orang yang mau bersabar di jalan-Nya. Akan ada kebahagiaan di balik setiap tetesan air mata. Akan ada mimpi yang terwujud bila kita percaya pada kekuatan doa.

Aku rindu pinguin pinkku yang dulu. Yang senantiasa menghiburku di setiap malam. Tidak cuma diam, bengong seperti sapi ompong… Mungkin karena aku terlalu lemah sehingga ia meninggalkan ceria. Mungkin karena aku terlalu memaksa, sehingga ia berubah tak lagi bijaksana.

Semoga malam-malam selanjutnya tetap akan ada dia yang senantiasa menghiburku dengan Pinguin Pinkku. Akan kembali juga teman narsisku (kangen pengen foto2 sama kamu lagi kayak dulu). Akan kembali juga cintanya yang seperti dulu.

Aku masih menunggu… Menunggu… Dan cuma kita dan Allah yang tahu…Love U, Mas Itemku…!!!


 

 

Lady Vhia

19/11/2010

Coretan iseng malam hari ungkapan isi hatiku untukmu, Tuan Hitamku… Tetap semangat!!! Meski raga kadang terasa lelah…

Catatan Singkat di Malam Idul Adha…

12 : 26 am Waktu Laptop Si Mas Item

Hari ini sudah memasuki hari Raya Idul Adha. Sudah lewat tengah malam. Dan adzan pun tetap berkumandang tanpa henti. Mengisi kosongnya hati dari hampa. Merenungi waktu demi waktu dalam harap yang tak berkesudahan. Menepi kembali setelah lelah ku berjalan.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Walillahil hamd…

Tanpa terasa kesedihan menyelimuti ruang benakku. Meski aku sudah tak mampu lagi berurai air mata. Sudah dua hari raya ini aku merayakannya sendiri. Tanpa keluarga, tanpa teman, hanya berteman sepi dan sendiri.

Untungnya lebaran Idul Fitri lalu ada dia yang menemaniku. Kami menyambutnya dengan suka cita. Masak opor ayam, ketupat, sambal goreng hati. Menu yang sederhana dibanding sajian dirumahku pada setiap lebaran-lebaran sebelumnya.

Dan hari itu untuk pertama kalinya aku berlebaran bersamanya. Tangannya adalah tangan pertama yang kukecup memohon maafnya. Membuatku selalu meminta pada Allah untuk tidak mengambil kebersamaan yang indah ini. Meski kadang sakit.

Dan hari itu untuk pertama kalinya semasa hidupku aku tidak lebaran bersama Mom-ku. Dan aku hanya mampu mengucap maaf pada Beliau melalui barisan kata dalam sms. Tanpa balasan, tanpa reaksi. Ah… Mom, Andai Allah senantiasa memberimu sedikit hidayah…

Rencanaku pun untuk berlebaran di rumah Papa untuk kedua kalinya terbatalkan. Hanya karena aku belum bisa membeli tiket untuk pulang pergi Bekasi-Kendal. Hidupku kini sudah selalu menggunakan skala prioritas. Setidaknya masih tetap bersilaturahim meski hanya melalui sms.

Sungguh berbeda lebaranku tahun ini dengan lebaran-lebaran sebelumnya. Tetap saja aku merasa sendiri. Dia hanya ada di saat pagi untuk kami shalat Ied bersama. Setelah itu dia pergi dengan seseorang dan menghabiskan waktu bersama orang itu dan keluarganya. Sementara aku di rumah hanya bisa sendiri menantinya.

Hhhh… Apakah hidupku akan senantiasa bersendirian Allah?? Mengapa awal yang mudah sekarang terlihat sulit? Walau aku mulai menikmati kedamaian setelah bendera putih dikibarkan. Aku kembali menemukan dia yang dulu. Meski belum sesempurna dulu.

Entah bagaimana aku bisa bertahan hidup tanpa dia… Sementara suatu hari kemungkinan untuk tidak bersamanya adalah sangat mungkin. Bagaimana aku bisa menjalani hari-hariku setelah itu?? Ahhh… entahlah… aku tak ingin membayangkan sesuatu yang negatif. Hanya akan membuatku pesimis akan hidup…

Aku hanya bisa berharap Allah tidak pernah mengambil saat-saat indah kebersamaanku dengannya. Dan mengijinkannya untuk bisa menjadi imamku. Yang akan menghalalkanku tanpa syarat… Karena aku hanya ingin bersama-samanya… Meski tanpa harap sekalipun…

 

Lady Vhia

17/11/2010

Bisik Hati di Tengah Malam (2010)

Satu pengingkaran hatimu kembali ku dengar lagi malam ini. Pengingkaran terhadap semua rasa yang pernah kita lewati sebelumnya. Dan aku yakin jauh di lubuk hatimu paling dalam kamu masih ingat semua yang pernah kita rasakan sama-sama. Dan semuanya terasa seperti abu yang terbang tertiup awan. Terbuang jauh ke sudut kelamnya malam.

Andai boneka pink ini bisa bicara. Ia akan menjadi saksi atas semua yang pernah kita lalui bersama. Andai kamera ini bisa bicara. Ia yang menjadi saksi semua kebersamaan kita dulu. Yang merekam semua setiap moment kita berbagi bersama. Dan andai sajadah ini bisa berkata. Ia kan menjadi saksi tangis kita dahulu di subuh akhir ramadhan, ia kan menjadi saksi semua sedih dan senangnya hatiku karena kamu.

Andai dinding ini juga bisa bicara. Mereka yang menjadi saksi tawa, ceria, cinta, tangis kita bersama. Di setiap hari-hari yang kini kau tinggalkan. Tak ingatkah engkau kala sore itu aku menangis dan mengemas pakaianku, engkau memelukku erat memintaku untuk tidak pergi? Tak ingatkah engkau setiap malam-malamku selalu ada kamu?

Kamu tak pernah tahu sakitnya aku saat kamu mulai tak disisi. Ragamu ada, tapi hatimu entah melambung jauh entah kemana. Kamu tak pernah tahu rasanya saat kamu bilang aku bukan siapa-siapa. Menganggap semua yang terjadi tidaklah berarti apa-apa. Seperti terdera lonceng besar yang memekakkan telinga hingga pecah kepala.

Selama ini kata-katamulah yang membuatku bertahan. Selama ini yang pernah kamu ucapkan dulu yang menjadi semangat hidupku. Memintaku untuk tidak menyerah. Karena Allah itu pasti adil. Tapi mungkin kamu lupa pernah mengatakannya.

Satu doa tak cukup, harus keduanya yang doa. Tapi aku tak tahu siapa yang kau sebut dalam doamu. Apakah itu aku?? Ataukah itu dia?? Coba lihat aku dengan tidak emosi!!! Begitu katamu saat itu. Tapi yang ku lihat adalah tetap saja kamu yang dulu. Kenapa yang ku lihat bukan laki-laki yang mencampakkanku? Kenapa yang ku lihat bukan amarahmu? Tapi di setiap malam-malamku adalah kamu yang dulu.

Yang ku punya hanyalah doa. Doa tulus seorang kekasih hatimu. Yang memintamu untuk tetap menjadi imamku dalam setiap sholat-sholatku. Yang tetap menginginkanmu menjadi pelengkap hidupku. Menjadi ayahku, menjadi kakakku, menjadi teman baikku, menjadi sahabatku, menjadi kekasih hatiku dan juga menjadi lawanmu.

Aku tak berharta dan tak memiliki keindahan sepertinya. Tapi malaikat juga tahu. Cintaku merupakan cinta Allah yang disisipkan untukmu melaluiku. Untuk bersama kita kembali pada-Nya. Dan pertemuan kita pun bukan tanpa maksud. Allah pasti menghadirkanmu di sini atas kehendak-Nya. Karena kita tak pernah mengawalinya dengan kepura-puraan. Tak juga kita awali dengan kemunafikan. Semua mengalir begitu saja. Tapi sayang kini hanya kemunafikan dan pengingkaran hati yang kamu ucapkan.

Dan aku akan tetap menunggu. Menunggu dan cuma kita yang tahu. Tanpa kata… Tanpa suara… Hanya isak tangis di setiap doa. Yang senantiasa ku panjatkan di sepertiga malam. Allah… Andai dia bukan jodohku. Aku hanya menantinya mengikat janji suci di hadapan-Mu. Dengan wanita yang berasal dari sejenisnya, sesuai dengan Syariat-Mu.

Dan setelah itu… Aku akan hilang laksana abu… Tanpa tersisa sedikitpun… Meski perih yang kan kubawa… Menjadikanku apatis terhadap cinta…

 

Hari Pahlawan 2010, 24 menit menjelang pukul 2 dini hari

 

 

Lady Vhia

“Takkan lelah hati ini menunggu. Memohon kebesaran kuasa-Mu. La Haula Wa Laa Quwwata Illa Billah…”

Akhir Cerita Cinta

Angin seperti beringas menerpa tubuhku yang tengah mengendarai Mega Pro hitam kesayanganku. Hasil keringatku menjadi kroco di tempatku bekerja. Cuaca tampak sedang moody. Sebentar panas sebentar hujan. Seperti hatiku yang bertanya-tanya apa gerangan yang kan ku temui di sana nanti.

Ya, aku datang ke kotamu. Demi mencari jawab akan sebuah tanya. Yang terbersit sejak kau putuskan untuk mengakhiri hubungan kita.

“Maaf, aku tak bisa melanjutkan hubungan ini,” ujarmu malam itu.

Jeeelllleeeegggeeeerrr… Beriringan dengan suara petir, kata-katamu itu. Tak lama hujan turun membasahi bumiku dan juga hatiku yang tengah kering kerontang.

“Kenapa, Ai? Apa yang salah dariku? Selama ini kita baik-baik saja kan?” tanyaku setengah menahan geram.

“Tidak ada yang salah. Aku yang salah. Aku minta maaf,” katamu kemudian memutus percakapan kita malam itu melalui telepon.

Aisha, wanita yang telah menjadi kekasihku satu setengah tahun ini tiba-tiba memutuskan hubunganku. Padahal selama ini kami tak pernah bertengkar. Selama ini aku pikir aku mampu menjaga kualitas Long Distance Relationship kami.

Gadis cantik berjilbab itu merupakan cinta pertamaku. Bahkan kami sudah merencanakan untuk menikah tahun depan. Aku pun sudah secara tidak resmi meminta pada orang tuanya untuk menjadi istriku. Orang tuaku pun sudah merestui. Bahkan Ibuku sudah membelikan kebaya krem untuk acara lamaran kami. Dan aku sudah menyiapkan satu set perhiasan sebagai tanda pengikat cinta kami kea rah yang lebih serius.

Tapi malam itu, dalam sekejap ia menghancurkan semua mimpiku untuk menyuntingnya. Tanpa alas an, tanpa kejelasan. Meninggalkan tanya dalam gundah yang selalu menggayuti hari-hariku setelahnya.

Aku meneleponnya tak pernah dijawab. Kata sahabatnya, dia mengganti nomernya. Facebook, Yahoo! Messenger, dan Twitterku dihapus dari accountnya. Semua foto-foto kami di facebookku juga dihapus semua olehnya.

Aku semakin merasa ada yang aneh. Ini seperti bukan dirinya. Namun tak bisa juga kutemukan satu saja clue untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Satu bulan ku tunggu tak kutemukan juga jawabnya. Membuatku terombang-ambing seperti kapal diterpa gelombang besar. Akhirnya kuputuskan untuk menemuinya di akhir minggu ini.

 

* * * * *

 

Udara dingin kota kembang menyambutku kala kumasuki kotamu. Jalanan masih ramai oleh mobil berplat B. Setiap akhir minggu pasti kotamu padat oleh pendatang. Hanya sekedar untuk shopping ataupun rekreasi.

Ku belokkan motorku di gang rumahmu. Dan akhirnya aku sampai dan kutenggerkan Mega Proku di halaman rumahmu. Tapi… kenapa ramai sekali di rumahmu? Tanyaku dalam hati.

“Assalamu alaikum…” ucapku memberi salam.

Sontak saja orang-orang yang ada di rumahmu, yang sebagian besar ku kenal sebagai keluargamu, terkejut melihatku. Terutama orang tuamu.

“Ramadhan… kapan sampai di sini?” kata Ibumu gugup.

“Baru saja, Bu. Saya langsung kemari tadi. Mau ada acara apa, Bu? Ramai betul…” tanyaku berusaha untuk tetap santai.

“Mmm… emang si Eneng nggak kasih tahu?” tanya Ibumu balik. Aku menggeleng.

Tiba-tiba semua mata menatapku iba. Seolah-olah aku adalah orang yang paling patut dikasihani karena ketidaktahuanku ini. Aku merasa menjadi paling bodoh karena tidak tahu apa-apa.

“Hayu atuh, calik heula… Ibu ambilkan minum dulu ya!” kata Ibumu dengan logat Sunda yang kental. Kemudian beliau masuk ke dalam.

“Maaf Nak Ramadhan… kami tidak bermaksud menutupi ini semua dari Nak Ramadhan. Kami hanya ingin menghargai keputusan Eneng. Ini semua Eneng yang minta,” kata Bapakmu mulai angkat bicara.

“Iya Pak… Justru saya kesini mau memperjelas apa yang sudah Aisha putuskan bulan lalu,” kataku.

“Lebih baik Nak Ramadhan bicara dengan Aisha saja. Kami orang tua tidak berhak mencampuri urusan kalian. Aisha ada di teras belakang,” ujar Bapakmu lagi.

Aku pun menuju teras belakang rumahmu. Tempat kita sering menghabiskan waktu saat aku berkunjung ke rumahmu. Di sana banyak gadis-gadis remaja seusiamu mengitarimu. Kamu sedang dipakaikan mehndi, lukisan di tangan menggunakan cairan pacar india. Dan kamu terkejut melihatku. Sementara yang lain meninggalkanmu. Dan kini, hanya ada aku dan kamu.

“Aku akan menikah lusa,” ujarmu tanpa mau melihatku. Aku sudah bisa menebak jawabanmu. Tapi masih saja terasa sakit.

Seolah bumi ini kembali diguncang gempa berkekuatan 9,4 SR. Dan berbagai anak panah menancap di dadaku. Membuat sesak… sesak yang tak sanggup lagi aku tahan. Seketika lututku bergetar. Dan aku terjatuh di hadapanmu.

“Kenapa Ai?? Kenapa rasanya bisa sesakit ini, Ai??” tanyaku gamang.

“Ai minta maaf…”

“Aku pernah buat salah apa sama kamu, Ai?? Kenapa kamu bisa setega ini sama aku, Ai?? Aku datang kesini karena aku pikir aku bisa perbaiki ini semua. Tapi kenapa Ai??? Kenapa yang aku dapat seperti ini???” tanyaku setengah berteriak. Dan kamu mulai menangis.

Sementara orang rumahmu hanya mampu menonton kita dari dalam rumah. Bapakmu melarang mereka untuk masuk mencampuri urusan kita.

“Kamu nggak salah apa-apa, Ram… Aku yang salah. Aku bertemu dia empat bulan yang lalu. Dan dia kemudian langsung melamarku.”

“Tapi aku sudah lebih dahulu memintamu pada orangtuamu, Ai. Apa itu nggak berarti apa-apa buat kamu??”

Aisha terdiam. Hanya isaknya yang terdengar.

“Apa selama ini yang kuberikan kepadamu tak cukup untuk bisa kau hargai???” lanjutku.

Aisha masih terdiam.

“Jawab, Ai!!! Jangan diam saja…!!!” bentakku dengan mata memerah.

“Ai tahu, Ram. Tapi Ai nggak bisa bohongi hati Ai kalau Ai lebih cinta dia daripada kamu,” jawab Ai dengan suara bergetar.

“Kamu mengorbankan cinta kita yang sudah satu setengah tahun demi pria yang baru kenal empat bulan???”

“Ai minta maaf, Ram. Harusnya Ai jujur sama kamu dari awal. Jadi kamu nggak perlu datang kemari.”

“Fine… ini keputusan kamu. Aku akui aku kalah. Aku minta maaf aku nggak bisa pertahanin cinta kita. Aku minta maaf…” kataku mulai menangis.

Hah… kenapa aku begitu lemah di hadapan perempuan ini?? Aku nggak boleh lemah di matanya. Tapi kenapa air mata ini tak mau tertahan lagi.

“Ram… Aku minta maaf…” Aisha kemudian memelukku. Biarlah ini menjadi pelukan terakhirnya.

“Ram… Jangan sedih!! Kamu bisa dapat perempuan yang lebih baik dari Ai. Janji sama Ai kamu akan baik-baik saja!!” ujarnya kemudian menatapku. Mencoba memberiku kekuatan.

“Apa aku akan baik-baik saja tanpa kamu, Ai?” tanyaku pelan.

“Pasti kamu bisa, Ram!” Aisha memegang pipiku dengan kedua tangannya.

“Apa kamu akan lebih bahagia dengannya, Ai?” tanyaku lagi.

“Insya Allah… Doakan aku selalu ya, Ram…” Aisha mulai menghentikan tangisnya dan tersenyum menghiburku.

“Peluk aku lagi, Ai… Karena mulai besok aku nggak akan bisa memelukmu lagi…” pintaku.

Aisha memelukku dan terus memberiku dorongan semangat agar aku tak merasa sakit. Ya, aku memang harus kuat. Aku harus sanggup melewati ini semua. Mungkin Aisha memang bukan jodohku.

“Mau jadi temanku?” tanya aisha sambil mengulurkan tangannya.

“Akan kupikirkan lagi,” kataku kemudian menjabat tangannya. Kemudian Aisha memelukku lagi. Memberikan salam perpisahan padaku.

Malam semakin pekat. Aku pun pamit setelah sedikit berbasa-basi dengan keluarganya. Mereka semua memuji kebesaran hatiku. Memberiku berbagai nasihat agar lebih mengikhlaskan semua ini. Aku seperti tikus yang abis kecebur di selokan kemudian diceramahi karena ketololanku.

Dan kembali ku menembus malam meninggalkan kotamu. Angin dingin memelukku erat seolah menghibur hatiku. Tak jarang pula ia menamparku ketika aku mulai menangis lagi. Ya… Aku harus sanggup… Aku harus bisa melangkah lagi memulai hari yang baru. Meski kini aku rapuh…

 

Biar aku sentuhmu berikanku rasa itu.

Pelukmu yang dulu pernah buatku

Ku tak bisa paksamu tuk tinggal di sisiku

Walau kau yang selalu sakiti aku dengan perbuatanmu

Namun sudah kau pergilah jangan kau sesali

 

Karena ku sanggup walau ku tak mau

Berdiri sendiri tanpamu

Aku mau kau tak usah ragu tinggalkan aku

Kalau memang harus begitu

 

Tak yakin ku kan mampu hapus rasa sakitku

Ku selalu perjuangkan cinta kita namun apa salahku

Hingga ku tak layak dapatkan kesungguhanmu

 

(Karena Ku Sanggup – Agnes Monica)

 

 

* Lady Vhia – 03/11/2010; 01:51PM

Cerpen singkat untuk seorang teman-teman yang pernah merasakan patah hati. Di dalam hidup apa yang kita inginkan/cintai terkadang tidak menjanjikan kebahagiaan bagi kita. Maka itu, senantiasalah menyiapkan diri untuk menghadapi kenyataan yang tidak pernah kita inginkan. Karena ini semua adalah proses pendewasaan diri. Akan ada reward yang indah di baliknya. Janji Allah itu pasti. Just trust it!!! And keep Your Smile!!!

 



Follow

Get every new post delivered to your Inbox.